Pendidikan spiritual dalam Islam

3 May

Manusia memiliki dua kebutuhan pokok: jasmani dan rohani. Manusia sehat bisa menyeimbangkan dua kebutuhan itu. Pendidikan spiritual (tarbiyah ruhiyyah) termasuk dalam kebutuhan rohani. Pendidikan spiritual dalam Islam tercantum  dalam hadist, “Tebarkan salam, berikan makan, sambungkan tali silaturrahim,  biasakan qiyamul lail (shalat malam) pada saat orang lain tidur, niscaya  engkau akan dimasukkan oleh Allah dalam surga-Nya, Darus Salam.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Jika dijabarkan, tebarkan salam dapat diaktualisasikan dalam bentuk tegur sapa, murah senyum, ramah, semangat memberi pelayanan, tidak sinis, tidak emosional, mudah mengulurkan tangan, dan sebagainya.  Sedangkan,  ‘memberi makan’ dapat diwujudkan dalam sikap empati, solidaritas sosial, mau meringankan penderitaan orang lain, selalu berbagi, dan berusaha mencari solusi.

‘Menyambung tali silaturrahim’ dapat diaktualisasikan dalam bentuk: suka dan supel bergaul, berkomunikasi terbuka dan efektif, tidak bermusuhan, bersahabat, bekerjasama, saling melindungi, dan sebagainya.  Sedangkan ‘qiyamul lail’ sebagai bentuk spiritualisasi diri  dapat diterjemahkan dalam perilaku yang selalu zikir  kepada Allah, istiqamah dalam beribadah, tekun berdoa, ikhlas beramal, sabar dalam menghadapi cobaan hidup, dan sebagainya.

Sikap amanah

2 May

Amanah adalah bersikap adil, menempatkan sesuatu sesuai dengan kedudukannya dan tidak mengurangi sedikit pun hak-haknya. “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS al-Ahzab [33]: 72).

Kita bisa mencontoh Ibrahim bin Adham yang terkenal karena amanah dan kezuhudannya. Ibrahim bin Adham pernah menjadi penjaga kebun delima milik orang kaya. Sambil menjaga kebun, beliau memperbanyak sholat. Ibrahim belum pernah sekali pun mengambil buah delima untuk mencicipi sehingga dia tak tahu delima yang manis atau masam.

Suatu ketika pemilik kebun meminta dipetikkan buah delima. Ibrahim memberinya buah delima yang menurutnya paling baik. Tapi ternyata delima itu masam. Pemilik kebun pun kesal. “Apa kau tak bisa membedakan buah delima yang manis dan asam?” Ibrahim menjawab bahwa dia belum pernah merasakannya. Pemilik kebun menuduh Ibrahim berdusta. Kejadian itu kembali terulang, dan Ibrahim pun dipecat.

Ibrahim kemudian pergi. Di perjalanan, ia menjumpai seorang pria yang sekarat karena kelaparan. Ibrahim memberinya buah delima yang tadi ditolak majikannya.

Ibrahim lantas berjumpa lagi dengan pemilik kebun yang berniat membayar upahnya. Ibrahim berkata agar dipotong dengan buah delima yang ia berikan kepada orang sekarat yang ia jumpai.

“Apa engkau tak mencuri selain itu,” tanya pemilik kebun. “Demi Allah, jika orang itu tidak sekarat, aku akan mengembalikan buah delimamu.” Setelah upahnya dibayar Ibrahim pun pergi.

Setahun kemudian, pemilik kebun mendapat tukang kebun yang baru. Dia kembali meminta buah delima. Tukang kebun barunya itu memberinya yang paling harum dan manis.

Pemilik kebun itu bercerita bahwa ia pernah memiliki tukang kebun yang paling dusta. Karena mengaku tak pernah mencicipi buah delima dan memberi buah delima kepada orang yang kelaparan, minta dipotong upahnya untuk buah delima yang ia berikan kepada orang kelaparan itu.

“Dia juga selalu shalat. Betapa dustanya dia,” kata pemilik kebun. Tukang kebun yang baru lantas berujar. ”Demi Allah, wahai majikanku. Akulah orang yang kelaparan itu. Dan tukang kebun yang engkau ceritakan itu dulunya seorang raja yang meninggalkan singgasananya karena zuhud.”

Pemilik kebun lantas mengambil debu dan menaburnya di atas kepalanya sembari menyesali. “Celaka, aku telah menyia-nyiakan kekayaan yang tak pernah aku temui.”

Itulah kisah Ibrahim bin Adham yang terkenal karena amanah dan kezuhudannya, dia telah melaksanakan hak orang lain, memenuhi hajat orang miskin, dan membantu orang yang membutuhkan. Ia juga melaksanakan amanah dengan baik. Semoga kita bisa meneladaninya. (Sumber tulisan)

Makanan halal

26 Apr

Tiap Muslim harus memperhatikan soal makanan: apa yang dimakannya, dari mana diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya. Makanan yang masuk ke tubuh harus benar-benar dijamin kehalalannya. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang mukmin akan berada dalam kelapangan agamanya selama tidak makan yang haram.” (HR Bukhari). Hadis lain mengatakan, “Wahai Kaab bin Ujroh, shalat adalah taqarrub, puasa adalah benteng, sedekah menghapuskan kesalahan seperti air memadamkan api. Hai Kaab, tidak akan masuk surga orang yang dagingnya tumbuh dari makanan haram karena neraka lebih dekat dengannya.” (HR Muslim, Nasai, ad-Darami). Hadis tersebut mengingatkan, mustahil seorang hamba akan selamat manakala ia tidak memperhatikan makanannya.

Hati nurani

23 Apr

Rasulullah bersabda: “Dalam tubuh ada mudghah, jika ia baik, maka seluruh tubuh menjadi baik pula. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh.” (HR al-Bukhari dan Muslim). Hati yang baik disebut qalbun salim atau hati nurani (hati yang bercahaya) yang selalu mendapat petunjuk dan bimbingan dari Allah. Sedangkan hati yang tidak baik disebut qalbu ghairu salim atau zhulmani (hati yang gelap/zalim).

Hati nurani selalu terbuka menerima dan menyampaikan kebenaran, berkata benar, melihat yang baik, dan mendengarkan yang bermanfaat. Bahkan ketika mendengar pembicaraan, diseleksi yang terbaiknya (QS az-Zumar [39]: 18). Rasulullah bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, berkatalah yang benar, kalau tidak bisa, sebaiknya diam.” (HR Muslim).

Kebalikan dari hati nurani adalah hati zhulmani. Gelap dari petunjuk berarti menutup diri dari kebenaran, cenderung kepada dishamonisasi, memutus silaturahim, egois, suka membuat teror dan provokasi. Jika suatu kebenaran merugikan dirinya, maka akanditutup-tutupi.

Makna uban

16 Apr

Menurut hadis, manusia yang pertama kali melihat uban adalah Nabi Ibrahim. Kemudian beliau bertanya kepada Allah, “Ya Rabbi, apakah ini?” Allah menjawab, “Ini adalah kemuliaan dan kelembutan wahai Ibrahim”.  Soal uban, Rasulullah menegaskan, “Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban, walau hanya sehelai, kecuali setiap ubannya akan dihitung sebagai kebaikan yang akan meninggikan derajatnya”. (Shahihul Jami’).  Imam Al-Qurthubi mengatakan, “Uban merupakan tanda perpisahan dengan masa kanak-kanak.” Artinya, ketika kepala kita sudah beruban, berarti kita telah dewasa dan bertanggung jawab penuh atas setiap ucapan dan tindakan. Uban juga sebagai tanda fisik yang mengingatkan kita bahwa jatah hidup di dunia sudah berkurang sehingga kita harus lebih bersyukur dan mengabdi kepada Allah SWT.

Tiga pintu kebajikan

13 Apr

Imam Ali bin Abi  Thalib menyebut tiga pintu kebajikan, yaitu: kedermawanan hati, perkataan yang baik, dan sabar mengahadapi penyakit atau cobaan hidup. Kedermawanan hati diwujudkan dengan memberi peluang kepada semua untuk berbagi rezeki melalui zakat, infaq, sedekah, dan wakaf, sehingga yang lemah menjadi lebih kuat dan yang miskin memiliki harapan hidup yang lebih baik. Perkataan baik merupakan sumber inspirasi dan motivasi yang dapat membuka pintu kebajikan. Perkataan yang baik itu keluar dari hati nurani, tidak dusta, dan tidak direkayasa. Kata kunci perkataan yang baik adalah kejujuran. Sabar menghadapi penyakit dan cobaan hidup merupakan perisai paling berharga yang membuat Muslim tidak mudah menyerah pada keadaan. Sabar  adalah kekuatan hati untuk bangkit memperbaiki keadaan.  Sabar merupakan awal kemenangan untuk  meraih masa depan yang lebih baik.  Dengan membuka tiga pintu kebajikan tersebut, kita dapat memiliki bekal hidup yang memadai untuk menghadapi kondisi dan situasi apapun.

Etos kerja Islami

12 Apr

Menurut riwayat Al-Baihaqi dalam ‘Syu’bul Iman’ ada empat prinsip etos kerja yang diajarkan Rasulullah. Pertama, bekerja secara halal (thalaba ad-dunya halalan). Halal dari segi jenis pekerjaan sekaligus cara menjalankannya. Kedua, bekerja demi menjaga diri supaya tidak menjadi beban hidup orang lain (ta’affufan an al-mas’alah). Muslimin dilarang menjadi benalu bagi orang lain, sejauh mereka mampu secara fisik dan psikis. Ketiga, bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga (sa’yan ala iyalihi). Mencukupi kebutuhan keluarga hukumnya fardlu ain. Tidak dapat diwakilkan, dan menunaikannya termasuk kategori jihad. Keempat, bekerja untuk meringankan beban hidup tetangga (ta’aththufan ala jarihi). Islam mendorong kerja keras untuk kebutuhan diri dan keluarga, tetapi  melarang kaum beriman bersikap egois. Islam menganjurkan solidaritas sosial dan mengecam sikap egois. . “Hendaklah kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian harta yang Allah telah menjadikanmu berkuasa atasnya.”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 206 other followers